by MTCC UNIMMA | Oct 29, 2019 | AGENDA
Pada tanggal 17 September 2019, MTCC UMMagelang mendapat kunjungan dari rekan-rekan MTCC UMY dan Vital Strategis. Agenda kunjungan kali ini membahas tentang rencana penyelenggaraan workshop yang akan diselenggarakan di Kabupaten Magelang yang berfokus pada petani tembakau, baik yang masih bertanam tembakau, yang berdiversifikasi, maupun yang telah beralih tanam ke komoditas selain tembakau.
by MTCC UNIMMA | Aug 26, 2019 | AGENDA
Alhamdulillah Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Wonosobo optimis regulasi KTR di Kabupaten Wonosobo akan terwujud melalui strategi Buttom-Up. Strategi ini sudah dimulai dari sosialisasi dan penerapan KTR di internal Dinkes termasuk seluruh Fasilitas Kesehatan (Faskes), Sekolah-sekolah, tempat kerja, dan masyarakat.
by MTCC UNIMMA | Jul 16, 2019 | AGENDA
Sebagai negara dengan jumlah penduduk lebih dari 260 juta orang, Indonesia adalah negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan penduduknya berusia di bawah 20 tahun sebanyak 37%. Namun potensi dan produktivitas Indonesia terancam oleh banyaknya kematian karena rokok. Sebanyak 76% laki-laki berusia 15+ di Indonesia merokok – ini tertinggi di dunia. Lebih parah lagi, 20 % dari anak usia ≤10 tahun sudah mencoba sebatang rokok– dan pada usia 13 tahun, lebih dari 90% dari mereka sudah mencoba merokok (N Tjandra, 2018). Dalam kondisi yang memprihatinkan tersebut, Indonesia juga menghadapi masalah terkait produk tembakau alternatif. Salah satu produk tembakau alternatif adalah rokok elektronik atau e-Cigarette (Elecronic Nicotine Delivery Systems) yang selalu menimbulkan kontroversi. Rokok elektrik – dipasarkan sebagai alternatif yang lebih sehat untuk rokok, tapi kenyataannya mereka juga membawa risiko lebih besar terhadap kesehatan pengguna dan orang-orang di sekitarnya.
Di Amerika, potensi bahaya kesehatan dari vape, rokok elektrik dan alternatif-alternatif rokok lainnya telah menjadi perdebatan dalam beberapa tahun terakhir, terutama saat rokok elektrik kian populer. New York menjadi negara bagian terbaru yang melarang konsumsi vape atau rokok elektrik seperti larangan atau pembatasan merokok. Hasil penelitian Norris Cotton Cancer Center (2014) di Darmouth College (USA) menyimpulkan bahwa rokok elektrik lebih berbahaya daripada bermanfaat. Meski rokok elektrik mungkin membantu beberapa perokok berhenti, jenis ini tampaknya cenderung membuat non-perokok jadi perokok. Ditemukan bahwa 168,000 orang berusia 12 sampai 29 tahun yang belum pernah merokok sebelumnya jadi mulai merokok dan menjadi pengguna harian antara usia 35 sampai 39 tahun. Penelitian Medical Journal of Australia menyelidiki 10 jenis e-liquid yang diklaim “bebas nikotin,” seperti dilaporkan ABC. Penelitian tersebut memberi kesimpulan mengejutkan, dimana enam dari sepuluh zat yang diuji oleh tim tersebut justru mengandung nikotin. Penelitian ini menyalahkan minimnya regulasi produk vape dari otoritas kesehatan Australia atas temuan tersebut
Berdasarkan fakta tersebut, MTCC UMMagelang menyakini bahwa harus ada strategi baru untuk kebijakan pengendalian produk alternatid tembakau di Indonesia cq e-cigarette. Faktor yang paling berbahaya adalah betapa e-cigarette/ vaping sangat menarik bagi remaja dan anak-anak muda. Di saat sebagian besar negara sudah mengklasifikasikan e-cigarette sebagai produk yang ilegal dan terlarang, Indonesia belum ada langkah apapun. Dampak selanjutnya adalah makin beratnya tantangan penegakan aturan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Indonesia. Fakta inilah yang mendasari MTCC UMMagelang untuk menyelenggarakan diskusi kontroversi e-cigarette bersama mahasiswa dan media. Diharapkan ada kesamaan persepsi dalam pembahasan isu-isu penting terkait pengendalian produk tembakau di Indonesia. Adapun sikap MTCC UMM sendiri sangat tegas dan jelas terkait rokok elektronik :
- Rokok elektronik pada dasarnya sama dengan rokok konvensional karena mengandung zat-zat berbahaya dan menyebabkan ketergantungan dan merusak kesehatan sehingga termasuk “haram” seperti yang telah difatwakan oleh Majelis tarjih PP Muhammadiyah terhadap rokok konvensional.
- Mendorong kepada pemerintah untuk melarang segala bentuk iklan, promosi dan sponsorship dari produk tembakau dalam bentuk apapun termasuk rokok elektronik untuk melindungi generasi muda bangsa.
- Mendesak kepada Pemerintah Daerah di wilayah Provinsi Jawa Tengah khususnya segera menetapkan Peraturan Daerah Kawasan Tanpa Rokok dalam bentuk Perda termasuk pelararangannya rokok elektronik didalamnya
Selanjutnya dengan diskusi ini Mahasiswa dan media menjadi aktor penting untuk kembali menggugah kesadaran semua pihak terkait kebijakan Pelarangan Rokok elektronik atau vape.
by MTCC UNIMMA | Jul 16, 2019 | Berita
Sebagai bentuk apresiasi untuk para jurnalis yang telah peduli terhadap isu pengendalian tembakau di Indonesia dan di daerah, MTCC UMMagelang menyelenggarakan Media Fellowship pada bulan Februari 2019 lalu. Berdasarkan penilaian terhadap berita/artikel yang dipublikasikan di media massa tentang pengendalian tembakau, maka telah diputuskan para pemenang sebagai berikut:
- Publikasi terbaik ditulis oleh Bapak Eko Priyono pada surat kabar Suara Merdeka, Jum’at, 22 Februari 2019 dengan judul “Bertani Tembakau Kurang Menguntungkan”.
- Publikasi kedua ditulis oleh Bapak Zaini Arrosyid pada surat kabar Kedaulatan Rakyat, Rabu, 13 Februari 2019 dengan judul “Petani Sumbing Budidaya Ubi Jalar”.
- Publikasi ketiga ditulis oleh Bapak Agus Munasir di TVRI, Rabu, 27 Februari 2019 dengan judul “Transformasi Petani Sumbing dari Cuaca Ekstrim dan Tanaman Tembakau”.
Masing-masing pemenang telah memperoleh kompensasi sebesar Rp 2.000.000,- untuk publikasi terbaik, Rp 1.500.000,- untuk publikasi ke 2, dan Rp 1.000.000,- untuk publikasi ke 3, beserta sertifikat.
Kembali kami mengucapkan selamat kepada para pemenang dan semoga kegiatan ini bermanfaat. Kedepan kami berharap para jurnalis tetap berperan aktif turut serta mengampanyekan pengendalian tembakau di daerah dan di Indonesia.
by MTCC UNIMMA | Jul 5, 2019 | Berita
Indonesia menghadapi masalah besar terkait pengendalian tembakau. Sampai saat ini, Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia yang belum menandatangani dan meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) World Health Organization. Bahkan Cina sudah menandatangani FCTC, dimana FCTC melihat bahwa cara paling efektif untuk mengurangi jumlah remaja konsumsi merokok adalah dengan melarang aktivitas pemasaran tembakau dan membatasi akses perusahaan dalam penentuan kebijakan pemerintah. Sebagai negara dengan jumlah penduduk lebih dari 260 juta orang, Indonesia adalah negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan penduduknya berusia di bawah 20 tahun sebanyak 37%. Namun potensi dan produktivitas Indonesia terancam oleh banyaknya kematian karena rokok. Sebanyak 76% laki-laki berusia 15+ di Indonesia merokok – ini tertinggi di dunia. Lebih parah lagi, generasi usia muda mengikuti senior mereka, 20 % dari anak usia ≤10 tahun sudah mencoba sebatang rokok– dan pada usia 13 tahun, lebih dari 90% dari mereka sudah mencoba merokok (N Tjandra, 2018). Diperkirakan setiap tahun, penyakit yang berhubungan dengan rokok menewaskan hampir 250.000 orang Indonesia. Studi Indonesia Family Life Surveys (IFLS) tahun 2007-2014 juga menunjukkan bahwa rokok bersifat adiktif sehingga perilaku merokok pasti terkait erat dengan jebakan kemiskinan.
Berdasarkan fakta tersebut, MTCC UMMagelang menyakini bahwa harus ada strategi baru untuk kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia. Perusahaan rokok (dan juga politisi pro industri rokok) selalu menggunakan isu ancaman penghidupan petani tembakau dan buruh pabrik rokok sebagai tameng dalam melawan kebijakan pengendalian tembakau. Padahal selama ini praktik monopoli industri tembakau membuat petani tembakau berada dalam posisi kehilangan daya tawar, sehingga margin keuntungannya sangat kecil. Data juga menunjukkan bahwa maraknya PHK buruh pabrik rokok bukan diakibatkan kenaikan tarif cukai rokok, melainkan karena usaha efisiensi dan mekanisasi industri tembakau. Dibuktikan bahwa pada periode 2005-2013 terdapat kenaikan produksi rokok sebanyak 47%, meski jumlah pekerja industri pengolahan tembakau justru terus mengalami penurunan. Kebijakan pengendalian tembakau melalui peningkatan kapasitas petani tembakau dan penegakan regulasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) merupakan prioritas kegiatan MTCC UMMagelang.
Hasil penelitian MTCC di Temanggung Jateng (2014) menunjukkan data bahwa hampir 90% petani tembakau menyatakan sistem tata niaga tembakau tidak berpihak pada petani. Fakta tersebut juga ditambah dengan masalah rancangan legilasi kebijakan KTR yang masih menghadapi masalah kompleks dalam implementasinya. Data dari WHO menyebutkan bahwa salah satu taktik umum industri pertembakauan untuk melawan kebijakan kesehatan masyarakat adalah melalui intervensi dalam proses pembuatan rancangan legislasi untuk kesehatan masyarakat. Sementara regulasi KTR di Indonesia, baru 203 kota/kabupaten yang memiliki regulasi KTR dan 212 kota/kabupaten belum memiliki regulasi KTR. Masing-masing daerah mempunyai kompleksifitas dalam penerapan regulasi kawasan tanpa rokok ini. Oleh karenanya, perlu dukungan semua pihak untuk bisa efektif dalam penegakan regulasi kawasan tanpa rokok ini. Media sebagai salah satu stakeholder, sangat dibutuhkan dukungannya dalam menyampaikan situasi dan kondisi yang dihadapi daerah terkait regulasi KTR maupun permasalahan pertanian tembakau. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat mendapatkan informasi yang jelas dan tujuan pengendalian tembakau tersampaikan kepada masyarakat bawah sampai pada tingkat pemerintah. Tujuan inilah yang mendasari MTCC UMMagelang untuk menyelenggarakan diskusi antar jurnalis/media lokal Jawa Tengah dan nasional. Diharapkan ada kesamaan persepsi dalam pembahasan isu-isu penting terkait pengendalian tembakau di Jawa Tengah dan juga di Indonesia. Media menjadi aktor penting untuk kembali menggugah kesadaran semua pihak terkait kebijakan pengendalian tembakau.
Media Network & Communication Officer
MTCC UMMagelang
Rochiyati Murni N